Menilik Pelayanan Taspen di Usia Separuh Abad

lombaartikel50tahun

Menjelang jam makan siang, Senin (18/3). Lobi pelayanan Kantor PT Taspen (Persero) Cabang Pontianak tampak sepi. Padahal ruang yang didominasi warna putih itu cukup besar. Namun hanya ada tujuh orang yang duduk di kursi tunggu. Lima orang menghadap meja pelayanan, sedangkan dua lainnya menunggu di depan loket pembayaran. Dibagian pelayanan, tampak para pegawai customer service tengah melayani dengan ramah para peserta. Sebenarnya siang itu, pengunjung Taspen cukup banyak. Hanya saja sebagian besar dari mereka cuma sampai di meja satpam, tepat di depan pintu masuk. “Kalau hanya mau mengambil formulir atau menyerahkan SPTB di meja security saja. Kecuali untuk konsultasi administrasi yang berat, baru ke customer service,” ujar Hamsar (35 tahun), satpam di situ. SPTB atau Surat Pengesahan Tanda Bukti Diri adalah formulir sebagai syarat permohonan klaim pensiun peserta Taspen. Hamsar sendiri sering menjadi tempat bertanya pertama para pengunjung Taspen. Kalau masalah proses administrasi, mereka biasanya langsung paham setelah dijelaskan, dan memilih tidak ke bagian pelayanan.
“Saya wajib tahu informasi dasar pengurusan produk Taspen. Ini tuntutan pelayanan prima perusahaan,” ujarnya bangga. Sekilas Hamsar tak tampak seperti Satpam. Pakaian dinasnya adalah safari berwarna biru dongker, dipadukan dengan celana warna serupa plus sepatu pantofel hitam yang mengkilat. Sementara di meja pelayanan, tampak empat orang pegawai Taspen berbicara ramah dengan orang-orang yang duduk di depan mereka. PT Taspen Persero adalah perusahaan yang berhubungan langsung dengan konsumennya. Pelayanan tentu sangat menentukan sukses tidaknya perusahaan itu. Namun melayani para pensiunan, terutama yang berusia lanjut, tentu saja butuh kesabaran lebih.
Dwiky Novebrianto (23 tahun), pegawai Taspen Pontianak dibagian customer service mengatakan pekerjaannya melayani para pensiunan merupakan kebahagiaan tersendiri. “Sukanya di sini kita bisa membantu orang tua, dan ini pahala,” ujar dia, usai melayani pengunjung. Hanya, dia mengakui butuh kesabaran ekstra pada pekerjaannya itu. “Pernah ada yang datang dengan emosi, karena merasa diperlama proses klaimnya. Kita tidak boleh membalas dengan emosi juga. Jelaskan secara baik-baik. Sebelumnya kita ditraining berbulan-bulan untuk berbicara,” ucap orang yang baru bekerja di Taspen selama setahun lebih tersebut. Dijelaskan dia, proses klaim yang lama biasanya dikarenakan berkas yang diserahkan ke Taspen tidak lengkap, sehingga si pengaju harus melengkapinya dulu. “Ini bagian dari kita untuk tertib administrasi. Tapi ada beberapa orang yang tidak mau tahu. Ada juga yang bermasalah dengan pendengaran, sehingga kita harus bicara agak kencang. Untuk itu kita harus sabar,” ucapnya. Bagian penetapan klaim juga tampak tak ramai. Sudarto (48), staf penetapan klaim, menyebut saat ini uang klaim langsung ditransfer ke rekening penerima. “Sebisa mungkin klaim tidak ke sini.
Kita sudah bekerjasama dengan banyak bank,” ujar dia. Namun tetap saja ada orang yang percaya bahwa mengurus langsung ke Taspen, bisa lebih cepat. Terutama mereka yang mengklaim asuransi kematian.

“Asuransi kematian itu sekitar Rp47 juta. Kita sarankan dibayar melalui rekening karena jumlahnya sangat besar. Resikonya besar kalau kerampokan. Tapi tetap saja ada yang mau tunai langsung, dan kita layani. Meski kebanyakan memilih lewat transfer rekening,” tandasnya. Inovasi Pelayanan Dalam dua tahun terakhir Taspen telah melakukan tahap perubahan dalam penerapan system pembayaran pensiun. Semula sistem pembayaran pensiun bulanan yang terlaksana selama ini berbasis konvensional berbentuk printing hard copy. Perkembangan Teknologi Informatika, membuat Taspen menggunakan sistem baru pembayaran pensiun dengan menggunakan fasilitas Elektronik Dapem atau yang dikenal dengan e-Dapem. “Sistem ini memudahkan saya, mitra dan tentu saja peserta
Taspen. Dalam sistem pelaksanaan pembayaran bagi para pensiunan dan khususnya mitra
kantor bayar untuk lebih dapat menge¬sienkan waktu, tenaga dan biaya. Data sekarang bias dilihat kapan dan dimana saja,” kata dia. “ Sebisa mungkin kita usahakan kantor ini sepi.

Karena kantor Taspen di Kalimantan Barat ini hanya satu, ya di sini,” ucap Kepala Cabang PT Taspen Pontianak, Refriani Roeslai saat ditemui Pontianak Post di ruang kerjanya. Dulu setiap awal bulan, kata dia, kantor Taspen hampir pasti selalu penuh oleh para peserta yang ingin mengambil klaim. Namun kini hal tersebut tak ditemui lagi. Mereka yang ingin mengambil klaim sekarang bias lewat bank-bank yang menjalin kerjasama dengan perusahaan asuransi tabungan hari tua milik negara itu. Di Kalbar, ada tujuh bank yang menjadi mitra Taspen, selain PT Pos Indonesia. April nanti, Taspen Pontianak akan mengeluarkan dana pension sebesar Rp53.224.567.800 untuk 27.816 pensiunan. Untungnya dari mitra-mitra Taspen punya 239 lokasi bayar yang tersebar di
seluruh Kalbar. Sedangkan untuk proses administrasi, Taspen bermitra dengan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) di setiap kabupaten dan kota.
Kata dia, kerjasama itu sangat penting. Pasalnya hampir mustahil Taspen mampu menangani Kalbar yang luasnya sama dengan Pulau Jawa plus Bali. “Sebenarnya pensiunan atau peserta Taspen tidak perlu ke kantor kita. Segala urusan dari permohonan urusan administrasi lainnya bisa ke BKD setempat,” ucap Refriani.
Berkas-berkas yang telah lengkap tersebut, kemudian dikirim langsung oleh BKD ke kantor Taspen. Bila ada berkas yang kurang lengkap, pegawai Taspenlah yang akan menghubungi langsung peserta.
“Setelah berkas kita terima, hari itu juga kita telepon si peserta. Dalam proses selanjutnya kita jalin hubungan personal,” tandasnya. Sejatinya kemitraan dengan BKD sudah berlangsung lama, namun sekarang lebih digiatkan lagi. PT Taspen merupakan sebuah Badan Usaha Milik Negara yang ditugaskan pemerintah untuk menyelenggarakan program Tunjangan Hari Tua (THT) dan program Pembayaran Pensiun kepada PNS. Program THT yang dilakukan Taspen adalah sebuah program jangka panjang di mana peserta berhak memperoleh manfaat program sebelum mencapai usia pensiun. Apabila pekerja meninggal dunia maka janda atau dudanya beserta anak-anaknya, akan berhak menerima manfaat. Program ini berupa sebuah tabungan wajib dari pembiayaan sendiri. Berdasarkan PP tersebut,  THT Dwiguna dide¬finisikan sebagai suatu jenis THT yang
Memberikan jaminan keuangan bagi peserta pada waktu mencapai usia pensiun ataupun bagi ahli warisnya pada waktu peserta meninggal dunia sebelum mencapai usia pensiun. Berdasarkan Kepres No.8 Tahun 1977, peserta Taspen membayar iuran 4,75 persen dari penghasilan sebulan. Untuk THT peserta membayar iuran 3,25 persen dari penghasilan sebulan. Menyadari bahwa dana pensiun dan THT adalah hak bagi setiap pensiunan, Taspen berusaha memudahkan pelayanan permohonan klaim dari pesertanya.
Langkah yang cukup berani adalah penyederhanaan formulir dari sebelumnya 22 berkas, sekarang tinggal dua formulir saja. Selain itu pemangkasan alur proses klaim dari tujuh titik dijadikan tiga titik prosedur klaim. Taspen juga membuat program e-klim, dimana pengurusan permohonan klaim dapat melalui laman http://e-klim.taspen.com.
Taspen juga membangun aplikasi e-Dapem yang dapat menyajikan data pembayaran pensiun secara realtime dan akurat. Berbagai revolusi pelayanan lainnya adalah standar
pelayanan satu jam selesai yang dimulai tahun lalu. Menurut Refriani, layanan ini dilakukan untuk mempermudah dan mempercepat pelayanan yang bersangkutan. Selain itu karyawan diwanti-wanti untuk bersih dan tidak menerima suap dari pihak manapun, jika tak mau menerima sanksi pemecatan. Dengan banyaknya pembenahan itu, Kepala BKD Provinsi Kalbar, Robertus Isdius mengatakan, pihaknya menikmati kerjasama
dengan Taspen. “Sudah dari dulu kita bekerjasama dengan Taspen. Tapi saya menilai beberapa tahun ini, pelayanannya makin baik dan komunikasi kita semakin intens. Apalagi banyak sekali pemangkasan alur birokrasi sehingga kami juga tidak terlalu repot,” ucapnya.
Dia berharap, Taspen terus mengeluarkan inovas-inovasi baru dalam rangka peningkaan pelayanan. “Sudah banyak inovasi yang dilakukan. Mulai dari penyederhanaan proses klaim sampai penggunaan teknologi. Kita harap lebih banyak inovasi-inovasi lain -
nya untuk pelayanan pensiunan kita,” pinta Robertus.
Nada yang sama juga datang dari para pensiunan. Gokkon Panjaitan (58 tahun), pensiunan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalbar, mengatakan dirinya saat
ini tidak pernah mengalami kendala dalam berhubungan dengan Taspen. “Dari sejak mengurus permohonan pertama beberapa tahun lalu, sampai sekarang lancar-lancar saja. Pelayanannya bagus dan karyawannya ramah-ramah. Sudah bagus,” ucapnya Hal serupa di ungkapkan Joko Supomo (57).
Mantan pegawai pada Direktorat Jenderal Pajak Wilayah Kalbar ini menyebut pelayanan
Taspen sudah memuaskan.
“Sangat baik. Saya pensiun dua tahun lalu saat mengurus permohonan dua hari langsung selesai. Sudah memenuhi harapanlah. Beberapa teman saya memang ada yang agak lama,
karena berkas mereka tidak lengkap dan diminta melengkapi dulu,” kata dia.
Namun ada pula kritik soal sistem pelayanan Taspen yang baru. Salah satunya soal peraturan kode blokir dalam pengambilan uang pensiun bulanan melalui bank. Setiap pensiunan, uang bulanannya tidak dapat dicairkan sebelum membuka blokir pada bank bersangkutan. “Dulu setiap bulan bisa langsung ke ATM narik uangnya. Sekarang agak repot, karena harus ke bank dulu untuk minta dibukakan blokirnya,” sebut Stefani Ardiana (23), penerima pensiun waris dari ibunya yang meninggal.*

top frame
bottom frame